Saturday, December 15, 2012

SEASON 5 Chapter 3 (Khnyom Ckmoh Adi)


Previous post here

Hari ini libur nasional. Seluruh pemuda Saigon beramai-ramai berlibur ke utara (Nha Trang, Da Lat, dst) dan barat (Phnom Penh, Siem Reap). Katanya mereka suntik, eh suntuk, dengan kehidupan Saigon yg serba semrawut. Rencanaku ke utara (Nha Trang, Hoi An dan sekitarnya) batal gara2 seat penuh. Bis, kereta, pesawat. Baru ada seat ke utara 4 hari kedepan. Ough, seat!!!! 

tiket
Setelah studi banding ke semua agen travel di seluruh Pham Ngu Lao, ada jatah satu kursi kosong menuju barat karena 1 penumpang cancel. "OK sir, I take that seat!" kataku.

Bis Kumho mengantarku dari depan penginapan menuju Phnom Penh. USD 10 oneway. Tak ada yang langsung menuju Siem Reap karena tiket bus kesana amblas semua. Tak apalah, Phnom Penh juga menarik kok, batinku. Last minute, aku coba kontak local traveler disana di salah satu forum traveler via internet. Sekalian antisipasi, booking penginapan di Phnom Penh. Dapat tarif IDR 100rb/malam. Em, cucok la…Selang beberapa menit, request terjawab. Alhamdulillah, dua traveler bisa menampungku di Phnom Penh. "Guys, your response is just faster than a thunder", kataku. Ouyeah..!! *:-)/\:-) toss

Border
Bis menempuh 6 jam perjalanan (plus transit di border & restoran). Seorang American duduk di sebelahku, Jim, berbadan besar ngglembosi mirip si perompak kaki kelinci Mission Impossible. Berkali kali menyanjungku karena seorang Indonesian melancong ke Vietnam semata mata karena melancong. Kagak cuman gue ajah mister, lainnya banyak kaleeeee! Batinku. Jim juga memuji Indonesia karena presidennya yg sekarang punya darah Indo. Oh, ya? Bukannya orang Amrik suka memuji Indo karena semua warganya hidup dari lahan basah negara ini? batinku.

Dia menawari sepotong hotdog. "Don’t worry, no pork inside! I know you’re Muslim", katanya sambil senyum. Ya, sejengkal emas di Papua ditukar dengan sepotong hotdog tanpa babi.

Selepas maghrib bus menyeberang selat sempit di atas ferry. Tinggal beberapa jam lagi mendarat di Phnom Penh. Sudah ada yg menungguku disana, mister Damn. Eh kliru, mister Damian.