Tuesday, June 21, 2011

Long Trip SEASON 2 (chapter 2)

Lanjutan trip sebelumnya (Long Trip SEASON 2 chapter 1)


29-03-2011
Minamata tak sedingin dulu. Angin pagi hari ini membawa kabar gembira. Sepertinya sisa 10 hari kedepan akan benar-benar mengesankan bagiku! :) senang



Keesokan paginya, setelah sepanjang sore kemarin menghilangkan penat di hotspring, aku pamit pada Nobuto-san sekeluarga. Walau tak sehangat Indonesia, paling tidak cuaca pagi ini menambah kehangatan pelukan keluarga Nobuto-san. Tak lupa, mereka memberiku uang saku: “ini nak, untuk beli permen di jalan...” uhuyy! lumayan, seribu yen menambah pundi2 dompetku.. :D tersenyum lebar

Mereka mengantarku ke stasiun Shin-Minamata. Disini kami berpisah. Berpelukan lagi, sampai senyum dan lambaian mereka menyusut diujung rel. Kereta yang kutumpangi menuju Okayama. Lagi-lagi, seperti keberangkatanku menuju Minamata, kepulanganku ke arah Kyoto transit di stasiun Okayama. Berharap lagi malam ini bisa tidur pulas dalam sleeping bag di depan tivi, yang ada justru aku diusir petugas stasiun! Wah, wah, wah... ini tidak adil! dua minggu yang lalu aku bisa berbaring nyenyak di dalam stasiun, rupanya tidak untuk kali ini. Aku diusir keluar oleh petugas. Glandangan mode stand by... melas mode turned on
:( sedih (:| mengantuk

30-03-2011 (01.00    WJT)
Setelah lengan kram karena menyeret koper, 30 menit kemudian aku sampai pada sebuah kursi di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang langsung kuserbu (karena ini satu-satunya kursi yang ada) aku langsung merebahkan badanku dan mengurung diri bersama sleeping bag. Yakin, nggak ada polisi??? pasrah! Buang pikiran itu jauh2… kalau nasibku memang mujur, maka pasporku akan sangat berguna untuk meyakinkan mereka bahwa aku adalah gelandangan legal!!!

Dan...sumpah! bukan polisi atau penjahat kelamin yang membuatku bangun berkali-kali. Cuaca pagi ini tak lebih dari 10 drajat selsius. Bukanlah hal yang nyaman untuk tidak bisa tidur di pinggir jalan dengan cuaca <100 selsius. Apalagi nightmare bersama gorilla dan seekor naga putih yang selalu mengejar2ku. Kadang gerombolan bebek menyerbuku dari depan. SANGAT TIDAK NYAMAN!!!

04.50 WJT
Bangun (untuk kesekian kalinya)
Kembali menuju stasiun. Langsung capcus menuju Kyoto.
Singkat cerita,pukul 06.00 aku berada di dalam kereta, duduk ditempat penumpang berkebutuhan khusus karena tidak ada seat tersisa (dasar serakah!). Hahaha… seorang pemuda berkebutuhan khusus yang duduk didepanku menyapaku, Ujung2nya kami berdua ngobrol berbahasa Indonesia (lho…???). Ya, jodoh emang gak kemana. Rupanya ini orang pernah 15 tahun tinggal di Indonesia. Dia adalah koki di resto Jepang, Sushitei. Oalaaaaaaah, Sushitei to? Opo kui? Aku ra ngerti (krik…krik…) 

Ishii pakek gaya kodok

Lumayan, buat obat rindu bahasa Indonesia, kami berdua ngobrol dg “bahasa” sepanjang perjalanan. Namanya Ishii. Dia bercerita banyak tentang Surabaya, Medan, Bandung, Jakarta, dan Indonesia. Tak terasa, kami berdua berpisah di stasiun interchange. Dia menuju Kobe, aku menuju Kyoto. Nomer hpnya berhasil kudapat. Yes! Bisa dine in di Sushitei Surabaya nih, GRATIS!!!
:D tersenyum lebar :D tersenyum lebar :D tersenyum lebar

12.10 WJT
Setiba di stasiun Kyoto, mampir Tourism Office bermaksud korek informasi tentang Kyoto. Berlagak sok-sok an gitu deh, kayak tamu penting, pake nanya2 dan interogasi petugas segala. Ya iyalah, guest is the king dan host is the labor. Hahahaaa!

Sebelum meninggalkan stasiun,berfoto dulu di sekeliling Kyoto Tower yang terletak berseberangan dengan stasiun Kyoto. Terlalu banyak koleksi brosur jadi bingung, peta mana yg mau dipakek. Kuambil selembar brosur, perjalanan berlanjut ke utara, jalan kaki menuju Higashi-Honganji Temple (jeprat-jepret), lalu ke arah Shijo-dori dan Kiyamachi-dori berjumpa dengan Kamo River, sungai yang indah. Aku menyusuri sungai kamo melewati kompleks kesenian, gereja katolik, dan Kyoto City Hall. Berhenti sejenak untuk menikmati serpihan angin sepanjang sungai Kamo. Sepanjang tepian sungai ini tumbuh pohon sakura yang sangat elok saat mekar nanti. Saking asyiknya, aku tertidur dibawah naungan sakura  I-) tidur (grrrrrrrrrrrrrrrhk…)

Tak terasa dua jam berlalu. Jalan kaki lagi masih menuju utara melewati Kyoto City Library of Old Documents dan Kyoto Prefectural University of Medicine sampai tiba di persimpangan Imadegawa-dori. Disini sungai Kamo membelah menjadi dua (Takano River & Kamo River). Belok kanan mengikuti arah Imadegawa-dori melewati Kyoto University, perjalanan (kaki) panjang berakhir di Ginkakuji Temple (Silver Pavilion). 

"Kamo"

penampakan di seberang Kamo

Menuju gerbang Ginkakuji, banyak makanan menggoda iman yang sangat sayang untuk dilewatkan. Di kiri-kanan jalan, para penjual menjajakan aneka jenis makanan ringan, kue-kue sampai makanan berat.  Cobain aja snack, harganya nggak sampai JPY 300. Kalau kamu ingin mencoba becak manual, tak ada salahnya datang ke Ginkakuji. Banyak pemuda berbadan kekar yang mengusung penumpang menggunakan becak tradisional ini sepanjang jalan sebelum masuk gerbang. Try it!!!
 

try this!!!

di Ginkakuji ("bayar karcis dulu bang!")

16.30 Masuk sebentar, menjalankan tugas seksi dokumentasi. Lalu keluar menuju halaman parkir Temple menemui box telepon umum. Maklum bang, my cellphone didn’t work here. Alhasil, aku lebih sering menggunakan jasa telepon umum di Jepang. Kali ini kucoba menghubungi Hayato, seorang teman Jepang asal Chiba yang kuliah di jurusan linguistik Universitas Kyoto. Kami berdua bertemu setahun tahun lalu di Thailand dan terus keep in touch lewat FB. Dia ngekos deket Ginkakuji. Lumayan lho di Kyoto dapet penginapan gratis. Sik asiiiiiiiiiiiiiiik!!!

Malam ini kami habiskan berdua dengan welcome party. OMG OMG OMG!!! Makan enak gratis lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii J Waduh-waduh, aku sampai lupa apa menu melcome party malam ini. Selepas welcome party kami ngobrol, bernostalgia, nonton tivi, dan ngenet (gratis lagi…) sampai ngak kerasa, pagi menjelang, aku meregangkan otot-otot yang kaku sambil berendam di bath tub nya. Ohhh……..
Hayato, seorang anak bos mobil Jepang di Thailand, rumah kosnya mirip apartemen. Ruangannya terdiri dari kamar tamu, dapur, kamar mandi, toilet dan jemuran. Biaya sewa perbulan kalu di kurskan IDR 6.000.000 (coba dihitung, bener nggak, nolnya ada enam). Alhasil, aku menginap di rumah kos bergaya hotel ini (ajiib tenaaaaaan!)
  
31-03-2011
Pagi: mendaki gunung dekat Ginkakuji, kalu ngak salah namanya gunung Nyoigatake. Di puncak ini terdapat tempat sembahyang umat Budha. Pagi ini aku menyaksikan Hayato sembahyang ditempat ini. Teduh…

Sambil sarapan di puncak, kami menikmati hamparan kota Kyoto. 98% Kyoto tampak dari puncak ini. Indah…Daripada naik Kyoto tower seharga JPY 600, mending Nyoi. Sudah gratis, sehat pula... O iya, Kyoto dikelilingi 6 gunung utama, salah satunya yang tertinggi adalah Nyoi. Di seluruh puncak gunung ini terdapat karakter Kanji yang besar sebagai simbol keselamatan dan kesejahteraan. Setiap pertengahan Agustus (biasanya tanggal 16), api unggun berkobar membentuk karakter Kanji tersebut. Gunung “berapi” ini dapat kamu saksikan dari kota Kyoto. Rupanya Hayato adalah salah satu panitia yang cawe-cawe mempersiapkan gawe besar ini. Dia panitia penyulut api unggun. Dia banyak bercerita tentang pengalamannya selama menjadi panitia. Tak sembarang orang bisa menjadi panitia. Apalagi semenjak tragedi orang meninggal karena terbakar  (ck ck ck, kasiyan…)
:-/ bingung

 persembahyangan

seorang gadis di Ginkakuji

Siang: Ikut kuliah di Univ Kyoto. Wah, lumayan bisa jadi mahasiswa asing. Hohoho… aku diajak Hayato ikut kelas bahasa inggris. Bersama kawan-kawan sekelasnya, kami berbanyak (bukan berdua lagi) bercerita tentang Indonesia. Dasar! bisanya-bisanya Hayato ini, aku jadi tamu istimewa di kelas mata kuliah bahasa inggris. Diskusi seputar Indonesia mengalir gayeng sampai akhirnya pembahasan kami mengerucut pada Mataram, Majapahit, dan Blambangan. Singkat cerita, seorang mahasiswa penikmat sejarah mencercaku dengan pertanyaan konyol seputar kerajaan-kerajaan tua itu (come on dude…! nilai rapor pelajaran sejarahku sejak SD-SMA tak pernah lebih dari 7). Aku hanya bisa bantu jawab Blambangan saja. Maklum, tanah kelahiran…Banyuwangi. Ujung-ujungnya kelas bahasa inggris berubah jadi kelas santet!!!

Sakura di Univ Kyoto

Hasil dari kelas ini adalah, aku harus jadi tourguide mereka besok saat mereka mengunjungi Indonesia. Aku harus mengantar mereka ke rumah-rumah dukun di Banyuwangi dan mengajak mereka menyaksikan Seblang…heh!!!

Sore: dari Univ Kyoto menuju Marutamachi-dori, Kyoto International Manga Museum, dan berhenti di Nijojo Castle, tempat bersemayam Samurai. MANTAAAAAAAAAAB!!! Lanjut ke Kyoto Municipal Library Center, Onmae-dori, Kitano Termangu Shrine, Kitaoji-dori, berakhir di Kinkakuji Temple (Golden Pavilion). Yang ini juga nggak boleh kelewat! Sejam berada disini, kembali lagi putar balik jalan kaki ke Univ Kyoto lewat Imadegawa-dori. Little far so much happy….
 
Malam: dinner di resto Thailand bersama kawan-kawan Hayato. Wiiiiiiiiih, berasa di Bangkok euy! Malam ini benar-benar nostalgia indah. Kami mengingat kembali masa-masa disana ditemani semangkuk green curry. Usai makan malam, pulang ke kos menyusun rencana esok hari: OSAKA!



these are Kinkakuji


01-04-2011
Pagi: bersama Hayato kami berdua mengunjungi Kyoto Muslim Association, Al-Salaam Hall, tempat nongkrong mahasiswa Indonesia. Sekalian mau Jumatan. Sialnya, gara-gara kelamaan nunggu bis, aku baru sampai Hall tepat saat shalat Jumat usai (Ya Allah, sesungguhnya engkau maha pengampun, maka ampunilah dosaku
(:| mengantuk ).

Untungnya, para mahasiswa selalu rapat selepas shalat Jumat, jadi aku masih bisa ikut nimbrung. Kenalan dengan mereka satu-persatu. Kebetulan salah seorang dari mereka adalah dosen muda di kampusku. Yah, dunia tak selebar daun seledri :| wajah tanpa emosi









Siang: trip to OSAKA with Hayato. Di Osaka kami menemui Kazumi, temen seperjuangan di Thailand. Genap sudah kami berempat: Adi, Hayato, Kazumi, seorang teman Kazumi. Lima jam di Osaka jalan-jalan, keliling Osaka Tower, ngalor-ngidul ngetan-ngulon…mengunjungi ini itu, cobain ini itu, makan ini itu, PUAS! Misi fantastic four berakhir disebuah gedung


Malam: Makan malam di puncak tower lantai 9 (ngak tahu nama towernya). Viewnya cantik! Ini yang bikin mahal, sepiring mi kuah IDR 100.000 (sumpret! MURAH bangeeeeeeeeeeeeeet!!!)
Menjelang tengah malam: back to Kyoto by JR. Happily exhausted 

Here we are (the three musketeers: Hayato, Adi, Kazumi)

"Fantastic Four"

Bersambung (Long Trip SEASON 2 chapter 3: Tokyo, Kuala Lumpur, Denpasar)


Thursday, June 16, 2011

Kawah Ijen

Riko turis mantepe ati, naliko ring Gunung Ijen…
(Miss Marendun by: Rozy Abdillah)




Syair diatas merupakan penggalan lagu yang dipopulerkan oleh kang Rozy, salah satu artis Banyuwangi. Lagu tersebut menceritakan pertemuan antara pemuda lokal dan turis asing yang jatuh cinta diatas kawah Ijen. Mereka bertemu ketika sedang menikmati indahnya gunung Ijen kemudian mengucap janji setia sehidup semati. Sang lelaki menunggu kedatangan sang turis (Miss Marendun) kembali dari negaranya untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Akan tetapi, sebelum kembali ke Indonesia, Marendun mati karena AIDS jahanam. Oh, benarkah? Tentu tidak. Itu Cuma love story. Oh, my heart.. Miss Marindun, I love you and you love me too… the story of love in Kawah Ijen. I’ve got my true love just one from you only:(


Apa yang diceritakan lagu tersebut ada benarnya bahwa Kawah Ijen memiliki alam yang mempesona, tak akan dilupakan oleh siapapun yang pernah mampir kesana. Anyway, aku tak akan meng-komen syair itu lebih dalam. Pokoknya begitu melewati jalan menuju pos paltuding, kanan kiri memanjakan mata sepanjang memandang. Berbagai spesies tumbuhan khas pegunungan terdapat disini. Namun sekali lagi, tidak apdol rasanya kalau jelajah wisata alam di Banyuwangi tanpa penyiksaan lebih dulu!!! Asal jangan muntah berak aja...2039875875632089134169000

 Jalan menuju pos paltuding rusaknya Masyaallah… setengah mati! Parah tenan! Kalau kamu naik motor, saat melewati jalan pecah bengkak, turunlah demi keselamatanmu dan keselamatan sepeda motormu. Kalau kamu naik jeep, sing paran-paran (Red: it’s ok). Tidak perlu turun. Cukup tambah satu helai sabuk pengaman. Tapi denger-denger, kemarin waktu aku berkunjung kesana, bupati berencana memperbaiki fasilitas jalan disini. Myakne tambyah sip! (Red: biar tembah keren!)

Sesampai di pos paltuding, terdapat indoor parking area (khusus sepeda motor) dengan tarif IDR 4.000 per unit sepeda dan IDR 2.000 per unit manusia. Di pos paltuding kamu bisa memilih rumah inap dengan berbagai fasilitas berdasarkan kelas. Mulai dari IDR 100.000 sampai IDR 500.000 per malam. Membawa tenda (plus sleeping bag) sendiri akan sangat membantu karena di pos paltuding terdapat free area seluas lapangan sepak bola yang khusus disediakan sebagai tempat menginap para pecinta alam. ”Hut” also available kalau nggak pengen kehujanan di lapangan terbuka.


mas Adi mengisi buku tamu


Agar lebih asyik, berangkatlah dari Banyuwangi kota pagi hari, sampai di pos paltuding pas siang hari, jadi menjelang sore kamu masih punya banyak waktu untuk mengumpulkan kayu bakar yang terdapat disekitar pos untuk membakar ubi guna mengusir kembung tengah malam :). Berangkat pagi juga memungkinkan tubuh untuk beradaptasi secara ideal terhadap hawa dingin di puncak.



Di pos paltuding terdapat toilet dan kantin yang menjual snack, makanan, dan anget-angetan: mi anget, teh, kopi anget, dan anget2an yg laen (Red: gorengan!). Kalau ingin makan hemat gemah ripah murah meriah, ada tempat loading belerang beberapa puluh meter sebelum masuk pos. Disini terdapat warung dengan harga rata-rata IDR 4000 per porsi (nasi putih, telur ceplok, tahu, tempe, sayur kuah, krupuk). Warung ini tutup hari Jumat, saat truk libur,

Setelah lewat tengah malam, akan tampak para penambang belerang berdoyong-doyong memikul ranjang dari loading area menuju kawah melewati pos paltuding guna menambang belerang. Kebanyakan para penambang ini adalah Using dan Maduranese. Sekali menambang mereka bisa memboyong 50-65 kg belerang mentah. Dalam semalam mereka menambang dua kali. Kenapa lewat tengah malam? Karena asap belerang masih stabil. Saat fajar menyingsing, asap belerang mulai mengepul dan akan mengganggu aktivitas penambangan. Berapa harga belerang perkilo? Dulu IDR 400 sekarang IDR 600-700 (Allahu akbaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar, MAHAL bangeeeeeet!!!).

"mesin" penambang belerang


Setelah subuh/menjelang fajar, pendakian wisatawan dimulai. Pendakian dimulai dari pos paltuding yang berjarak sekitar 3 km. Kalau kamu ragu tidak bisa menyaksikan sunrise tepat waktu, berangkatlah lebih awal sekitar pukul 01.00 – 02.00. Pastikan membawa cukup air untuk minum dan ”buang hajat” (I’ve tried!!! ) dan coklat untuk menghangatkan tubuh. Suhu disini antara 100 - 20 celcius (tergantung musim). Medan cukup panjang dan bisa mencapai kemiringan >65 derajat. Sepanjang medan kamu akan sering berpapasan dengan para penambyang yang turun. Say hello to them, mcuah!



lokasi penambangan (aden! jangan lupa maskernya den!)


Terdapat pos peristirahatan setelah setengah perjalanan. Di pos ini, penambyang menimbyang beleryang sebelum dibawa turun ke loading area. Disebelahnya terdapat bangunan peninggalan ”londo” berisi kamar pakaian dan beberapa rangka mesin tua. I was there... Kamu bisa masuk dengan minta dibukakan oleh si juru kunci terlebih dahulu (kunci gembok dibawa seorang miner). 

 victory!!!

Sampai di puncak Ijen sungguh sebuah penciptaan luar biasa. Tak perlu ku tulis bagaimana indahnya pemandangan disana (takut dibilang lebay, alay, hiperbol!!!). Sekarang cukup tersenyum. Silakan nikmati sendiri nanti. Gunung Ijen juga dikelilingi beberapa gunung lain. Disebelah timur, kamu bisa melihat Banyuwangi kota, selat Bali, Situbondo, dan sepenggal pulau Bali. Dari pulau dewata inilah sang surya mengawali dunia. Give smile to them

Seperti gunung2 yg lain, Ijen sering dipakai sebagai lokasi beberapa syuting baik film lokall seperti King yang dibintangi Mamik, Surya Saputra dan Wulan Guritno maupun film internasional *lupa judulnya bos, pokoknya pas aku kesana tu ada syuting rombongan kru film dari Inggris, semacam documentary movie gitu*.

salah satu adegan sinetron: "Roro Kidul Mudik ke Ijen"

 
Crater way to go
Kamu tidak harus memiliki kendaraan pribadi (jeep, sepeda motor) untuk mencapai pos paltuding. Kalau kamu dari arah Surabaya, lebih dekat lewat jalur Situbondo menuju Banyuwangi sampai terminal bis Karangente/Brawijaya. Dari Terminal Karangente Banyuwangi kota, kamu cukup naik angkot/len menuju terminal sasak perot (IDR 3.000), lanjut angkot ke polsek Licin lama (IDR 7.000-10.000 tergantung jumlah penumpang). Atau bisa langsung naik angkot dari stasiun kereta api Karangasem ke polsek Licin lama..(max IDR 15.000 per kepala) Kalau kehabisan ojek, supir angkot bisa dinego untuk mengantarkan ke pengolahan belerang atau polsek Licin lama (lebih rame lebih murah). Dari polsek Licin, tersedia truk pengangkut kayu yang dengan ikhlas, Insyaallah bersedia menampung kalian menuju puncak paltuding, GRATIS. I’ve tried!!! Truk pengangkut berangkat pukul 09.00 dan 14.00 dari tempat pengolahan belerang sebelum polsek Licin lama dan akan berhenti di loading area 100 meter sebelum pos paltuding. Jangan lupa ucapkan terimakasih beserta sebatang rokok :) :) :)
 .

 diatas truk

Kalau kamu naik kendaraan pribadi, dari Banyuwangi kota rute ke arah SMAN I Giri. Selanjutnya bisa memilih rute Olehsari Glagah atau rute Kemiren Kalibendo. Aku lebih prefer rute Glagah karena jalan lebih mulus. Tapi kalau kamu ingin sekaligus menikmati desa wisata, bisa melewati rute Kemiren Kalibendo. Di rute ini kamu akan melewati desa wisata di Kemiren, tempat rekreasi & pemandian Desa Wisata Using, Taman Suruh, serta perkebunan Kalibendo. Tapi jarang ada angkot di jalur ini. Dua rute ini (Glagah dan Kemiren Kalibendo) bertemu di pertigaan kantor polsek Licin lama.

Mau jalan yang lebih mulus? Coba rute Bondowoso-Wonosari-Sempol–pos paltuding dengan jarak tempuh sekitar 70 km. Rute ini lumayan baik. Tapi kemarin aku memilih rute dari Banyuwangi karena baru berkunjung dari Rajegwesi.

“Setiap nego ojek/angkot, selalu sampaikan terimakasih+sebatang rokok, niscaya mereka akan selalu terbuka untuk menampungmu lagi suatu saat nanti”

dari berbagai sumber
photos by: Nur Karmawan










Saturday, June 11, 2011

Longtrip SEASON 2 (chapter 1)

Tokyo-Yokohama-Minamata(Kumamoto), Miyazaki
Pics available on my FB...

Tiga bulan yang lalu, tepatnya 11 Maret 2011 aku melancong ke Jepang, memenuhi undangan seorang mantan, Maria Ozawa. Katanya dia kangen beratz (preeeeeeeet!!!). Hahaha...mas Adi ini bisa aja :)

Kedatanganku tepat saat gempa & tsunami hebat menghantam Fukushima pada 11 Maret dan kepulanganku berbarengan dengan dunia entertainment Indonesia yang dihebohkan oleh "polisi gorontalo menggila!". Sebulan penuh aku berada disana. Setengah bulan sebagai misi kerelawanan dalam rangka Environment Project and International Culture Festival di Minamata. Sedangkan separo bulannya adalah misi traveling mengitari tirai bambu. Hohoho...ajiiiiiiiiiiib!



Aku berangkat atas mandat IIWC (Indonesia International Work Camp) dengan host organisation di Jepang NICE (Never-ending International work Camps Exchange) dan MIFA (Minamata International Friendship Association).

Dengan persiapan seadanya, seutas tas kuliah dan koper ukuran sedang serta beberapa lembar dolar di dompet, kuawali long trip SEASON 2 ini (long trip SEASON 1 baca disini). Sengaja tak menggendong backpack karena belum pantas menyandang gelar backpacker (beginilah backpacker sejati yang rendah hati dan tidak sombong, nggak suka pamer ) Halah...!

Setelah menempuh perjalanan panjang Banyuwangi-Denpasar-Kuala Lumpur berhari-hari, akhirnya aku mendarat di Tokyo International Airport, Haneda. Sebelum keluar dari kabin, sang pilot mengumumkan cuaca diluar empat derajat celcius (WIK!!!). Alur klimaks musim dingin telah usai, namun suhu tak juga naik. Segera kurangkap kaos oblongku dengan jaket putih Haur Luen dari Taiwan (Made in China, maklum bos, barang KW)

10-03-2011
Pukul 22.30 WJT (Waktu Jepang Bagian Timur)
Landing di Haneda...................
Menuju Money changer buat tukar duwit (ya iyalah, masak nukar toples???).
Putari bandara dulu dari ujung ke ujung sampai pagi+koleksi brosur di konter tourism office. Setelah bercakap-cakap dengan petugas di information center yang bahasa ingrisnya nyendat-nyendat, aku putuskan untuk menginap di bandara berselimut sleeping bag. Seorang ibu muda disampingku beserta suaminya (bule eropah) mengajakku ngobrol. Dari sinilah kuketahui bahwa orang Jepang adalah orang paling ramah sedunia!

11-03-2011
06.00 WJT menuju information center di terminal domestik. Korek info seputar kereta yang menuju Tokyo. Bayar 450 JPY naik subway menuju Tokyo. Asik, lewat bawah laut J walau cuma bentar. Jalan-jalan dulu di Tokyo. Entah ada perasaan apa sepertinya aku tak ingin keluar jauh-jauh. Hanya sightseeing sekitar stasiun Tokyo saja. Perjalanan menunggang kereta berlanjut.....

11.00 WJT stasiun Yokohama.
Menginterogasi petugas kereta JR (Japan Railway). Kuhujani beribu pertanyaan seputar JR. Haha...ekspresinya berubah ketika kutanya ”how to go to Minamata by JR?????” dalam sejarah perkeretaapian Jepang, mungkin hanya satu penumpang yang berniat dan berhasil menunggang kereta JR jurusan Tokyo-Minamata, AKU!!! Maklum, Tokyo-Minamata tak kurang dari 1.300 km. Tak heran jika dia menanggapi:
Nobita            : “Are you sure??? You want to go to Minamata by JR???”
Adi                  : “Yes, Iam!”
Nobita            : “Are you sure??? You want to go to Minamata by JR???”
Adi                  : “Of course, Iam sure!”
Nobita            :“Are you sure??? You want to go to Minamata by JR???”
Adi                  : “Ya iyalah bosssss. Plis dehhhh!!!





Petugas menyodorkan 2 lembar kertas bertuliskan nama-nama stasiun dari Yokohama sampai Minamata dan di stasiun mana saja aku harus berganti kereta. Jadwal tersebut disesuaikan dengan keberangkatran pukul 16.00 WJT dari Yokohama untuk waktu tempuh paling singkat menuju Minamata yaitu 30 jam!!!??????!@##$#$%^$^%^&&*()(^&%#$@

Entah mimpi apa aku malam tadi, kali ini aku bisa menahan nafsu untuk tidak keluar stasiun jalan-jalan di Yokohama melainkan lebih memilih tinggal di dalam. Selain itu, aku memang harus ada di Minamata esok sore. Akhirnya aku memilih capcus! Siang itu juga berangkat dari Yokohama. Dan baru kuketahui keesokan harinya bahwa pukul 16.00 WJT kemarin gempa hebat melanda Jepun. Kalau saja aku tak menuruti kata hatiku dan lebih menomorsatukan ego, mungkin tubuhku sudah tergilas hancur oleh reruntuhan bangunan dan terseret derasnya arus tsunami (HIPERBOLIS!)

Beberapa hari aku merenung, berkali-kali me-review perjalanan sejak kedatanganku di Jepun. Awalnya aku berniat tinggal di bandara sehari lagi dan terbang dari Haneda-Kagoshima (sebelah Minamata) tanggal 12 pagi esok harinya yang hanya membutuhkan waktu 2 jam saja. Tapi tiba-tiba keinginan itu berubah, seperti ada sebuah bisikan, insting, ilham, petunjuk, guidance, mimpi, arahan, whatever!……yang mengharuskanku meninggalkan bandara pagi itu juga menuju Tokyo dan langsung ke Yokohama, tidak berlama-lama di Tokyo, serta tidak mengindahkan arahan petugas stasiun Yokohama yang menyarankanku.agar berangkat ke selatan (rute Minamata) pukul 16.00 WJT. Aku lebih memilih bergegas berangkat siang itu juga dengan risiko berganti kereta ratusan kali di setiap stasiun interchange sepanjang Yokohama-Minamata! Wallahu a’lam…..

OK, back to my trip! Dari Yokohama-Minamata aku melewati ribuan stasiun (HIPERBOLIS lagi) dan harus berganti kereta disetiap interchange:
Atami, Shimada, Hamamatsu, Toyohashi, Ogaki, Maibara, Kyoto, Osaka, Himeji, Okayama, Itozaki, Shin-yamaguchi, Shimonoseki, Kokura, Hakata (Fukuoka), Arao, Yashiro, Kumamoto, Shin-Minamata, Minamata, Shin-Capek dech!!! Sudahlah nggak usah panjang-panjang.

Ternyata sisa-sisa musim dingin masih menyisakan salju. Di Maibara aku keluar hanya untuk menikmati indahnya hujan salju. Dulu, masa kecilku di desa kunikmati dengan telanjang lari-larian menikmati guyuran air hujan, kali ini kunikmati dengan guyuran es (telanjang???? Ya enggaklah, gilak!).

Sama sekali tak kujumpai orang Indonesia di dalam JR, hanya beberapa glintir bule. Aku lebih memilih ngobrol dengan orang Jepun walau aku hanya tahu “arigatou aishiteru gozaimasu”. Ternyata ribet juga kalu pake bahasa ingris di Jepun. Alhasil, aku lebih banyak berbahasa tubuh. Apalagi sepanjang Osaka-Okayama, aku ngobrol dengan beberapa Japanese yang pernah ke Bali. Mereka bermaksud komplain saking enaknya sekaligus pedasnya rasa kare, tapi yang terjadi justru: “How distance the hot curry….” (GEJE poLLL).

Tengah malam tiba di stasiun Okayama. Duduk sejenak menyaksikan siaran tivi berbahasa Jepun. Andai aku fasih berbahasa jepun, pasti tahu bahwa siaran semua tivi di Jepun sedang mengkover berita gempa dan tsunami hari ini. Rupanya aku belum ngerti juga siaran tivi itu sedang memberitakan sadisnya gempa dan tsunami yang melanda bumi sakura sore tadi. Aku kira hanya siaran internasional yang memberitakan peringatan gempa China beberapa tahun silam. Ternyata, baru kuketahui seminggu kemudian bahwa siaran minggu kemarin adalah, oh.......

12-03-2011
Nyasar dulu ahhhhh...
Rasanya, traveling kurang lengkap tanpa kesasar. Hahaha....I was lost in Arao. Tempat dimana stasiun paling sepi seantero jepun berada, stasiun Arao. Dan di stasiun inilah aku kehilangan arah (aku bagai nelayan yang kehilangan arah, dan tak tahu kemana, houwouwo…)

Tidur di dalam kereta emang nyaman. Apalagi pas musim dingin, di dalam kereta jadi krasa anget. Di setiap gerbong, terdapat penghangat yang terletak tepat dibawah kursi. Inilah yang membuatku betah berada dalam JR sampai membuatku ketiduran. Ujung-ujungnya, pada suatu sore aku tiba disebuah stasiun aneh. Tak ada orang sama sekali. Sunyi...jangankan suara orang, jangkrik pun tak berkumandang!. Aku bertanya pada petugas stasiun menggunakan jurus ”seribu bahasa tubuh melempar bayangan”. Singkat cerita, selama hampir dua jam mondar-mandir di dalam stasiun, tibalah kereta yang kunanti.

19.40 WJT Girang bukan main tiba di Minamata station (bukan Shin-Minamata). Pria duapertiga baya (dikatakan separo baya masih terlalu muda) menjemputku. Dia adalah Junpei-San, sedikit botak seperti aku, juga sangat pandai dan cerdas J

Di dalam mobil kami berdua bercerita banyak (sok akrab gitu deh...). Dia seorang pengusaha, pemilik pabrik kertas terbuat dari serat bambu, tepat disamping rumahnya. Rupanya wajahnya sering nongol di semua stasiun tivi di Jepang, termasuk NHK (WAW!!!)

Aku diajak ke homestay di kampung Minamata berjarak 10 menit dari stasiun. Eh disana sudah ada banyak peserta work camp lain menunggu, dan tentunya, local people yang charming ( swit swiiiiiiit! J).

Kami berdua tiba disebuah rumah tradisional Jepang. Sungguh senang bukan main. Sumpah seneng banget! Seneng seneng seneng seneng seneeeeeeeeeeeng! Tak hentinya aku bersyukur bisa sampai Minamata dengan selamat dan berada dirumah Jepang ini. Bawaannya seneng terus. Pokoknya seneng banget lah! Seneng banget! Banget senengnya!!!

Begitu kubuka pintu.... WOWWWW! Sorak sorai gembira tawa menyambut kedatanganku. Rupanya welcome party baru saja dimulai. Aku datang disaat yang tepat! Puluhan peserta welcome party menyambutku, memelukku, memberiku ucapan selamat berkali-kali. Mereka antara lain local people dan para partisipan environment project: seorang USA yang telah lama disini, dua sodara kembar yg baru lulus dari Aussie, dua partisipan dari Perancis, dua dari Rusia, seorang dari Hongkong, dan sisanya kebanyakan warga lokal. Mereka akan terlibat bersama selama 2 minggu dalam environment project di Minamata bersamaku dengan arahan seorang campleader. Rumah inilah yang jadi homestay kami selama dua minggu kedepan. Hanya kami!



Di meja telah tersedia beragam jenis makanan ala Jepang. Aku cicipi satu persatu (mumpung GRATIS). Minuman berbagai rasa buah juga tersedia. Komplit! Tak lupa beragam sake dihidangkan. Sayangnya aku nggak hobi minum alkohol. Juga nggak hobi makan daging babi. But anyway, this is the true Japan!

13-03-2011
Pagi: kunjungan ke Minamata Municipal Museum naik sepeda onthel melewati pinggiran kota Minamata yang bersih dan indah. Hm, jangan salah, Minamata is number one city di jepun untuk urusan lingkungan. Super bersih deh. Sampah aja dipilah nggak cuma 3, belasan macem!

Museum ini terletak disebelah Eco Park yang keren, bersebelahan dengan teluk Minamata. Oh, cantiknya…..Di museum ini kami diskusi banyak tentang tragedi Minamata, nonton video pencemaran teluk minamata dan para korban pencemaran mercury di teluk Minamata (ih, kalu inget jadi merinding, ngeri deh pokoknya)


Siang: shopping di minimarket, makan siang di Eco Park, dan pergi ke MS City, supermarket paling gede di Minamata (nggak lebih gede dari blok M) buat belanja makanan, lalu mampir ke rumah tua tradisional. Hampir semua rumah di Minamata adalah rumah tradisional, tapi rumah yang satu ini punya nilai sejarah tersendiri, usianya ratusan tahun, termasuk sebuah pohon di pekarangan yang berumur lebih dari 400 tahun! Di rumah ini kami merayakan peringatan girl day (upacara ceremonial setiap tanggal 03 Maret). Sepuluh hari berlalu tapi tetap saja pengunjung banyak yang masih berdatangan. Di rumah ini kami disuguhi bermacam makanan ringan, coklat, permen, kue-kue, dan Japanese tea. Kenyang…

Sore: Kembali ke castle, makan malam… melekan, main UNO sampai pagi!



14-03-2011
Pagi: Cutting bamboo forest
Ya, potong bambu. Dari castle kami ngontel lagi menuju rumah Junpei-San. Lalu berangkat ke hutan bambu untuk potong bambu dan kembali lagi ke rumah Junpei by truck.


Siang: mengunjungi ecohouse, rumah ramah lingkungan di Minamata. Semua peralatan terbuat dari kayu dan bambu. Sumua sumber tenaga dihasilkan dari biji panel surya. Rumah ini disediakan oleh pemerintah Jepang sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan. So cool!

Sore&malam: kembali ke castle, makan malam okonomiyaki (pizza ala jepun) dan misosup (no pork). Merayakan “white day”  (aku baru tahu begitu banyak hari spesial di bulan ini) hari dimana laki-laki memberikan gift pada seorang perempuan. Ah, daripada repot-repot, aku kasih mereka sebiji jeruk.

15-03-2011
Pagi: Ngontel lagi, potong bambu di rumah Junpei (untuk dibakar à arang bambu)

Siang: kembali ke castle, makan siang. School visit ke SD (sumpah! SD disini lebih keren ketimbang SMA ku). Di GOR SD ini kami presentasi masing-masing negara. Lalu main Dodi Ball Game, permainan bola tangan ala jepun.

Sore: Kembali ke castle, persiapan makan malam

Malam: French night! Dua peserta dari Perancis (Martin & Victor) membuat spaghetti. Khusus spaghetti untukku, no pork!

16-03-2011
Pagi&siang: kerumah mas Junpei naik onthel (oh ya, aku belum cerita kenapa setiap hari selalu naik sepeda onthel, sepeda ini disewakan khusus untuk ketiga belas peserta work camp) potong bambu lagi (oh ya, aku juga belum cerita kenapa sering potong bambu, bambu2 ini nantinya akan dibuat arang untuk menjernihkan airàpendidikan tentang lingkungan di sekolah2)

Sore: pulang ke castle

Malam: Japanese Night. Peserta dari jepun (Mai, Manami, Fukuju, Tomo, Akemi, Moe, dan Ami) membuat menu spesial ala jepun untuk makan malam. Dilanjut Karaoke lagu-lagu jepun (yang kuingat judulnya cuma ”train-train”) jingkrak-jingkrak sampai larut pagi. Assssoooooooooooooy!!!






17-03-2011
Pagi&siang: this is very cold day!. Menuju ecohouse (ngonthel lagi). Disini kami membuat ecogate untuk ecohouse. Go go go! Adi go! Adi go!

Sore: pulang kandang. Persiapan untuk party nanti malam: Campfire!!!

Malam: Api ungguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun. Yeah!!! Tiga kali tepuk pramuka (prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok) nggak usah diitung prok-nya! Malam ini kami menuju rumah mas Junpei jalan kaki untuk barbekyu. OMG.......that’s wonderful! Kami pulang dari rumah mas Junpei pukul 01.00 WJT sempoyongan karena perut penuh daging sapi L




Cake for Maria: Hari ini Maria ultah. Castle rame banget!!! Potong lilinnya, potong lilinnya, potong lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang jugaaaaaaa.

18-03-2011
Pagi: jadi kuli di ecohouse. Melanjutkan pekerjaan membuat ecogate dari bambu (potong bambunya, potong bambunya, potong bambunya sekarang juga, sekarang juga, sekarang jugaaaaaaa).

Siang: latihan presentasi untuk international festival besok (bayangkan! Sebuah festival kebudayaan international dihelat di jepun! Dihadiri oleh tamu2 penting sejagat, ribuan pengunjung dari penjuru dunia memadati arena, dan aku akan presentasi dan menari didepan mereka. Masyaallah.....OMG 100x!!! (overdosis mas???)

Malam: “Discussion about Minamata” bertempat di ruang ecohouse. Menghadirkan orang2 penting dari Tokyo, tamu undangan dari Hokkaido, penerjemah, pemerintah, media massa, korban tragedi Minamata sebagai pembicara, dan kami ketigabelas peserta workcamp.  Ogata-San, sebagai pembicara, memaparkan bagaimana tragedi Minamata telah merenggut nyawa seluruh keluarganya. Saat dia berusia 16 tahun ayahnya terinfeksi mercury dari limbah pabrik Chiso, meninggal setelah gila selama 2 bulan.
Diskusi ditekankan pada: “what we can think about Minamata disease” dengan benang merah berupa harapan pada masa depan: future, about environment. Pesan yang disampaikan adalah: “apapun dan siapapun kamu nantinya” selalu linked dengan environment. Contoh: Jika kamu menjadi seorang guru, maka ajarilah muridmu pendidikan lingkungan, jika kamu kepala daerah, maka buatlah kebijakan pro-lingkungan, dll...hm, diskusi yang menyentuh.

19-03-2011
Pagi: menuju Eco Park dalam rangka penghijauan. Eco Park adalah taman indah yang disulap dari sebuah pantai tercemar mercury pada masanya. Dulu, di satu bagian teluk Minamata terdapat pantai yang tercemar logam berat parah. Akhirnya dibuatlah pulau buatan untuk mengatasinya. Dan, jadilah sebuah taman indah yang canggih disebut Eco Park! Di pulau buatan ini ditanam berbagai jenis pohon. Dan pagi ini, kami beserta beberapa murid SMP dan pemerintah lokal mengadakan aksi penanaman pohon di pulau buatan ini.



Siang: final preparation untuk International Culture Festival. Selepas penanaman, kami bertiga belas berdo’a. Hufh........

Dari Eco Park kami langsung meluncur ke TKP, tepatnya di gedung sekretariat MIFA (Minamata International Friendship Association). Disana sudah nemunggu kami, seorang panitia koordinator acara. Kami brifing sejenak untuk persiapan presentasi. Aku dapat urutan terakhir. Yesss! (serve the best for the last! Haik!!!).




Acara dibuka oleh presiden MIFA setelah beberapa sambutan, lalu dilanjutkan dengan berbagai performance. Kini tiba saatnya bagi kami presentasi. Diawali dari Perancis, Rusia, dan Hongkong. Mereka bercerita tentang bahasa nasional, hari-hari penting, musim, dan bangunan fenomenal (termasuk eifel). Tiba giliranku di penghujung presentasi, aku mengenalkan Indonesia sebagai negara kepulauan, ribuan pulau terbentang sampai-sampai orang Indonesia sendiri bingung kehabisan ide untuk memberi nama pulau. Aku menjelaskan tentang koteka di Papua, toraja di Sulawesi, Aceh, Minang, Bali, dan kampung halaman, Banyuwangi. Sebagai penutup presentasi aku menari tari Jaran Goyang. Dilanjutkan tari dari Brazil, lupa apa namanya mungkin Samba, dan beberapa negara lain.

Next sessionàjaga stand. Seluruh peserta dipersilakan menuju meja masing-masing. Aku kebagian job di stand Indonesia dan menerima para tamu yang ingin mengetahui Indonesia. Risiko jadi WNI harus bisa menjelaskan tentang Islam karena mereka selalu penasaran kenapa orang mau untuk tidak makan dan minum seharian penuh dan berdoa 5 kali sehari. Apalagi sunat, mereka paling tertarik untuk megetahui sunat terutama pengunjung wanita. Padahal mereka takut disunat!

Malam: pulkam, persiapan homestay...langsung dijemput oleh host family. Sepasang partner homestay dijemput oleh masing2 host fam mereka. Aku (Indonesia) dan Tomo (Jepang) dijemput Toyama-San. Kami berdua diantar kerumahnya untuk menginap dan merasakan hidup sebagai orang jepang. Sik asiiiiiiiiiiik!!!

Toyama-San tinggal bersama sang istri, mereka memiliki seorang putra yang sedang kuliah di Hakata. Toyama bekerja sebagai Minamata Officer di Minamata Hall. Wah, pasti gajinya gede. Mobilnya aja ada 3 biji! Dirumah ini dia cerita banyak tentang keluarganya, tentang masa lalunya, tentang Jepang dan budayanya, serta tentang Indonesia. Rupanya dia pengagum lagu Bengawan Solo. Aku ditunjukkan beberapa lagu Bengawan Solo versi Jepang. Dulu, orang tuanya juga sering menyanyikan lagu ini. Sumpah, aku terharu... L. Kalau saja Jepang tidak bercokol di Indonesia, mungkin lagu ini tidak sampai hijrah ke bumi sakura.

Toyama sangat baik hati, dia memelihara kucing dan anjing sekaligus. Setiap pagi dia juga memberi makan burung-burung yang kebetulan lewat. Dia memberi makan burung-burung itu secara cuma-Cuma.

20-03-2011
Pagi&siang: karena semalam terlalu asik ngobrol, kami berdua (aku & Tomo) bangun jam 10.00 WJT. Langsung sarapan dan jogging sekitar rumah Toyama. Selepas Dhuhur, kami sekeluarga diajak keliling Miyazaki. Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Sumpah keren!!! Miyazaki jadi menu wajib kalau kamu ke Honshu. Dijamin nggak bakal nyesel. Ada Cuma Cave dan Mori-Ko-Bou. Apalagi dipuncaknya, ada Soba Japanese Restaurant yang wuih! Keren! Aku diajak mampir kesini. Dan hari ini adalah hari spesial karena keluarga Toyama pergi ke resto ini hanya setahun sekali. Kenyang dengan semangkuk ramen, kami melanjutkan trip, kali ini mampir di market beli es krim. Waaaaaaaah, kalau begini caranya, makmur terus hidupku. Apalagi gretong!!! Hwahahahaha

Sore: Pulang kerumah Toyama Maghrib. Makan malam menu Japanese Tempura

Malam: kembali ke kastil.

21-03-2011
Pagi:makan arang dirumah Junpei untuk merayakan keberhasilan pembuatan arang. Hohoho...

Siang: finishing pembuatan ecogate di ecohouse

Malam: Russian night! Maria dan Nataly memasak pancake dan hidangan ala rusia (lupa namanya)

22-03-2011 (freeday)
Hari ini khusus hari untuk kami semua, tak ada kerjaan (padahal tiap hari juga nggak pernah kerja, isinya cuma jalan2...)
Pagi-siang: Jalan2 ke M’S City, adu narsis di photobox, pencet2 game box, lunch (menu: kikodong hutachu: semoga ejaannya benar. Hehe)

Sore: liburan ke Eco Park dan pantai Minamata, belanja di minimarket untuk keperluan dinner. Mampir rumah Junpei: internetan.

Malam: pulang castle, uji coba goreng pisang untuk persiapan Indonesian Night. Pisang belum diangkat udah pada banyak yang antri, pisang belum dituang ke piring udah habis duluan L

23-03-2011
Pagi: jadi kuli lagi, cutting bamboo di hutan

Siang: ambil arang yg udah jadi di tempat pembakaran.

Sore: pulkam....main2 di castle, melakukan pekerjaan rutin rumahan: cuci baju, nyapu, merapikan tempat sepatu

Malam: Menu makan malam: Sushi. Wah, dari tempatnya aja keliatan mahal. Hoho, maklum den. Pertama kali makan sushi. Tapi kok ikannya mentah ya???
Malam ini cobain ”goemon-buro” dirumah tetangga. Ini adalah traditional japanese bathtub, semacam mangkok gede yang terletak dibawah tungku perapian. Cara memakainya juga tradisional sekali. Dimasak dengan kayu bakar +/- 30 menitan lalu berendam didalamnya. Hm...nyummy!

24-03-2011
Pagi: bantu tetangga panen bawang

Siang: lunch di restoran (menu: wapamesi & kaijiru: moga nggak salah eja lagi)

Sore&Malam: food party. Makan lagi di rumah penduduk. Kenyang minta ampuuuun! Tomo tepar lagi, ngak kuat jalan karna mabuk berat *&^%(@)^%@!!!#$%^*


25-03-2011
Pagi: niatnya sih bantu tetangga panen kedelai. Eh, ternyata si kedelai masih belum siap panen. Karna ngantuk beratz, akhirnya ketiduran di ladang kedelai. Grrrrrrrk...

Siang: makan siang di rumah penduduk (menu: udong enak tenan)

Sore-malam: seperti biasa (main2 dengan anak tetangga, cuci baju, main kartu, tebak2an, makan malam, mandi, mimpi...

26-03-2011
Pagi: jalan kaki sebar undangan ke rumah2 penduduk, akan ada pesta besar di kastil malam ini!!! Please be there on time!!!

Siang: ke rumah Junpei-San dan ecohouse ambil foto, crot! crot! (suara kamera nggak segitunya kaleeeee! Yg bner Cpret! Cpret!), tidur siang berbaring di pinggir jalan :p



Sore: kembali ke kastil. Final evaluation, persiapan farewel (pasang pita selamat datang, pernak pernik jendela, hiasan dinding, goreng pisang, bersih2 dll...)

Malam: farewel party! Lebih rame ketimbang welcome party. Lebih banyak pesta sake dan cocktail, dan lebih banyak teriakan disana-sini…masing2 peserta memberikan kesan pesan selama disini. Ada yang ketawa lepas, ada juga yang nangis. Hoeks…hoeks…(suara nangis nggak segitunya kaleeeeee. Yg bner hiks! hiks!).
Usai farewell party melekan sampai jam 03.00 WJT

27-03-2011
Pagi: Bersih2 kastil, cuci peralatan dapur

Siang: Kubur sampah, perpisahan, nangis, sayonara….

Malam: aku long stay di Minamata. Malam ini tinggal di rumah Junpei-San bersama Mai, sang campleader

28-03-2011
Pagi: bantu2 Junpai-San

Siang: pamitan....relokasi ke rumah Nobuto-San. Hari ini aku tinggal bersama Fukuju di rumah Nobuto-San

Sore: goes to hot spring. Sore ini aku diajak Nobuto-San sekeluarga keliling Minamata menikmati hotspring bersama Fukuju dan Aniki. Kalau kamu ke Minamata, hot spring wajib masuk dalam list! Sepanjang jalan menuju hot spring juga wajib untuk diabadikan.
Walau di Indo banyak hot spring, tapi di Jepang beda. Semua pengunjungnya telanjang, termasuk aku L




Malam: Puas menikmati hotspring, kami sekeluarga mampir restoran Joyful. Singkat cerita....
KENYANG
PUASSS
NEXT: Long Trip SEASON 2 chapter 2 (Minamata, Osaka, Kyoto)